HIMAGROTEK UNSYIAH menggelar Seminar Tanaman Herbal

Blangnangka- Tanggal 08 November 2017 Agroteknologi Unsyiah PSDKU Gayo Lues menggelar Seminar Tanaman Herbal. Seminar ini mengambil tempat di ruangan gedung B pada pukul 14.00 sampai dengan selesai. Seminar yang mengundang dosen dan kalangan industri obat, seminar ini diadakan untuk memberikan wacana baru mengenai manfaat obat herbal tradisional.

Seminar ini menghadirkan pembicara-pembicara antara lain Sadami S.sos (Legal Eksekutif Direktur HPAI) dan Saparida Hannum (Direktur HPAI). Seminar ini membahas mengenai Hidup Sehat Tanpa Obat Kimia.

seminar_Kopi_HIMAGROTEK

Seminar ini dihadiri oleh Koordinator kampus Unsyiah PSDKU Gayo Lues bapak Dr. Djuraidin Ismail, M.S beserta dosen-dosen dan mahasiswa-mahasiswa kampus Unsyiah PSDKU Gayo Lues.

Kepala Program Studi Agroteknologi Ir. Ainun Marliah, MP berharap "agar program ini dapat menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa PSDKU bukan hanya Prodi Agroteknologi saja, karena dari program ini diharapkan adanya minat mahasiswa untuk selalu menjalankan program yang bermanfaat."

Obat herbal tradisional yang selama ini diturunkan oleh nenek moyang kita turun-menurun seperti kunyit ternyata mengandung manfaat yang luar biasa bagi sistem metabolisme kita. Obat herbal tradisional memiliki keunggulan yang lebih daripada obat biasa, karena memiliki kemampuan untuk dalam memperbaiki aktivitas biomolekuler tubuh. Kemampuan ini ada karena tanaman obat tradisional dapat melakukan biosintesis kombinasi dari senyawa metabolit sekundernya.

Obat herbal tradisional dapat meningkatkan dan memperbaiki ekspresi gen dalam tubuh. Saat ekspresi gen meningkat dan menjadi lebih baik, hormon dan sistem imun tubuh akan bekerja lebih optimal.

Seperti yang diutarakan oleh Saparida Hannum (Direktur HPAI), yang dicari bukan mengobati tapi menyembuhkan. Obat yang terbuat dari bahan kimia biasa tidak memberikan kesembuhan total karena hanya memperbaiki beberapa fungsi sistem tubuh. Sebaliknya, obat herbal tradisional memiliki kemampuan memperbaiki keseluruhan sistem, karena bekerja dalam lingkup sel dan molekuler. Regulasi pemerintah mengenai obat herbal tradisional masih belum ada. Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat mengenai penggunaan obat jenis belum merata. Ini terjadi karena sebagian besar dokter di Indonesia masih menggunakan obat yang terbuat dari bahan kimia dan cenderung menyepelekan obat herbal tradisional, seperti jamu. Belum lagi ketidak percayaan industri obat dan pasien terhadap obat herbal tradisional, karena tidak adanya uji coba klinik. Obat herbal tradisional tentu menjadi pilihan yang sangat tepat bagi masyarakat Indonesia. Bukan saja karena ketersediaan tanaman obat tradisional yang melimpah di alam negeri ini. Tapi juga banyaknya dukungan dari bidang agro, kimia dan biologi akan kehadiran obat herbal biomolekuler. Besarnya keuntungan ini mungkin bisa membuat produksi obat herbal tradisional menjadi salah satu produk devisa negara.

Bagikan Berita ini

Berita Lainnya